Internasional

Kisah Chop Suey, Perjuangan Imigran Cina Lewat Kuliner

Restoran Chop Suey di Chinatown San Francisco Tahun 1962
Gambar: History Today

Kisah Chop Suey, Perjuangan Imigran Cina Lewat Kuliner – Daerah Chinatown di sejumlah kota di Amerika, terkenal akan kulinernya yang melegenda.

Chop Suey, atau dalam bahasa kita namanya Capcay, menjadi menu favorit tak hanya warga Cina sendiri, tetapi juga warga Amerika.

Bahkan hingga terkenalnya Capcay, terjadi saling klaim tentang siapa pemilik resep pertamanya.

Seorang pria bernama Lem Sen mengklaim bahwa dirinya adalah penemu resep Chop Suey. Dia membuat makanan itu pertama kali saat bekerja sebagai chef di restoran “Bohemian” di San Fransisco.

Sen mengklaim resep itu dicuri oleh salah seorang pelanggannya, dan dia kemudian membuka restoran dengan menu andalan itu.

Lem Sen menggugat restoran yang menjual Capcay itu, karena menjual hasil karyanya dan mendapatkan keuntungan.

Namun pada akhirnya, Lem Sen mencabut gugatannya itu. Akan tetapi, perdebatan tentang pembuat pertama makanan itu terus terjadi. Bahkan sejumlah media Amerika ikut memanaskan konflik tersebut.


Demam Emas dan Migrasi Besar-Besaran Warga Cina

Pada awal abad ke-19, warga Cina mulai menempati sejumlah wilayah di Amerika. Awalnya jumlah mereka hanya sedikit, dan mereka pun tidak tinggal untuk jangka waktu yang lama.

Baca Juga: Siapa Penemu Komputer Pertama Kali?

Namun saat emas ditemukan di daerah California, semuanya berubah dan menjadi awal baru dari kisah makanan Capcay ini.

Cerita penemuan emas itu sampai ke tanah Hongkong, Macau dan Guangzhou.

Dalam cerita itu disebutkan jika orang-orang di California bisa menambang emas dengan hasil kiloan setiap harinya. Emas ditemukan tersebar di sejumlah sungai dan permukaan tanah.

Demam Emas di California

Gambar: Wikimedia

Dalam hitungan bulan, ratusan kapal-kapal Cina berangkat melintasi Samudra Pasifik demi harapan baru itu. San Francisco menjadi labuhan pertama para pendatang dari Cina itu.

Baca Juga: Suku Ainu Jepang: Penduduk Asli Yang Terdiskriminasi

Dalam masa itu, San Francisco hanyalah sebuah desa pelabuhan kecil. Gara-gara demam emas itu, San Francisco berkembang dengan pesat dengan penduduk berasal dari seluruh dunia.

Para pendatang itu tiba dengan bekal seadanya, terutama bahan makanan. Hal ini dilihat sebagai kesempatan bagi para warga Cina.

Meski sebagian besar berangkat menambang emas, namun tidak sedikit imigran asal Cina itu kemudian menjadi pedagang dan membuka restoran.

Tak butuh waktu lama, kawasan warga Cina berubah menjadi restoran-restoran dengan dipenuhi bendera kuning, khas Cina.

Wilayah itu juga begitu cepat mendapatkan reputasi baik karena makanan yang murah dengan rasa yang enak.


Konflik Isu Rasial

Perkembangan penduduk di San Francisco begitu pesat dengan keanekaragaman suku dan negara asal mereka. Hal ini menciptakan kelompok-kelompok yang kemudian berkembang menjadi geng.

Warga Cina yang baru menginjakkan kaki dan berniat menjadi penambang, harus bergabung dengan geng Cina.

Baca Juga: Mirisnya Kondisi Sungai Gangga, Tempat Suci Yang Sekarat

Alhasil jatah mereka dari hasil menambang dipotong untuk kepentingan kelompok. Pendapatan mereka pun lebih sedikit daripada penambang dari negara lainnya.

Kesenjangan pun terjadi dan berakibat munculnya konflik ras di beberapa wilayah. Restoran-restoran Cina juga menjadi sasaran tindakan rasial tersebut.

Isu bermunculan jika restoran Cina menghidangkan makanan busuk dan mencampur dengan bangkai tikus dan kadal.

Karena warga dari bangsa lain lebih memilih menjadi penambang, pelaut dan pekerja, maka usaha kuliner dikuasai oleh warga Cina.

Karena penduduk asal Cina mendominasi bisnis kuliner dengan harga murah dan rasa yang enak, isu-isu tersebut tidak efektif.


Krisis dan Munculnya Chop Suey Pertama Kali

Chop Suey alias Capcay Kuliner Legendaris Cina

Gambar: Food Republic

Krisis pun datang, ketika jumlah emas mulai sedikit dan dikuasai penambang-penambang besar. Pengangguran pun merebak di berbagai wilayah dan terburuknya, terjadi kelaparan.

Karena tidak memiliki skill memasak yang mumpuni, warga kulit putih pun mencari restoran dengan harga yang murah yang mereka mampu beli. Hal ini dimanfaatkan dengan baik oleh restoran-restoran Cina.

Baca Juga: 10 Penjahat Dunia Yang Paling Terkenal Dalam Sejarah

Cerita yang beredar, ada seorang warga kulit putih yang mendatangi sebuah restoran Cina. Dia menyerahkan beberapa koin uang yang dia miliki kepada seorang penjual makanan Cina itu.

Penjual itu memasak-kan bahan-bahan sisa jualannya. Berbagai jenis sayuran sisa dia masak dengan cara ditumis, dan menghidangkannya pada pembeli tersebut.

Tak disangka, pembeli itu jatuh cinta dengan masakan yang dihidangkan itu. Dia pun menjadi langganan tetap, dan cerita menyebar ke banyak orang.

Karena harganya murah dengan rasa enak serta mengenyangkan, makanan yang kemudian diberi nama Chop Suey atau Capcay ini pun booming. Warga kulit putih berdatangan ke daerah Chinatown hanya untuk menikmati makanan murah itu.

Awalnya makanan itu diberi nama “Chow-Chop-Sui” (makanan yang dipotong-potong). Karena pelafalan yang sulit, akhirnya menjadi Chop Suey.

Tak butuh waktu lama, Chop Suey menjadi menu primadona, hingga namanya menyebar ke seluruh Amerika bahkan dunia.

Dibalik kepopuleran Chop Suey, rupanya tersimpan makna balas dendam warga Cina atas tindakan rasial yang sebelumnya mereka dapatkan selama bertahun-tahun.

Warga Cina menganggap makanan Chop Suey adalah makanan sisa, dan warga kulit putih itu justru suka dengan “makanan sisa” yang dihidangkan oleh mereka.

Baca Juga: 7 Jembatan Dengan View Paling Spektakuler Di Dunia

Meski demikian, lambat laun sentimen itu mulai hilang. Dan Chop Suey berkembang dari menu awalnya.

Berbagai variasi daging dan lauk lainnya ditambahkan. Dengan variasi tersebut, Chop Suey bisa naik kelas, dari makanan kelas bawah hingga bisa menjadi menu utama kelas atas.

11 Letusan Gunung Berapi Paling Dahsyat Dalam Sejarah

Previous article

Operasi Babylift: Misi Evakuasi Massal Anak-Anak Yatim Perang Vietnam

Next article

You may also like

Comments

Comments are closed.